ALLAH MENEMANI KITA DALAM BADAI
Posted by Admin 2026-08-07
Allah Menemani Kita dalam Badai
Yesaya 43:2 ; Yakobus 1:2-4
“Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melintasi sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, nyala api tidak akan membakar engkau.” -- Yesaya 43:2 TB2
Ketika kita berbicara tentang “badai” tentu yang kita maksudkan bukanlah badai dalam artian fenomena alam, tetapi persoalan, pergumulan, permasalahan yang kita hadapi dalam hidup kita. Badai yang kita hadapi bisa berupa masalah keuangan, relasi, keuangan, kesehatan, pekerjaan dan lain sebagainya.
Badai yang kita hadapi pun bersifat personal dan subyektif; artinya kita tidak bisa dan tidak boleh membanding-bandingkan persoalan yang kita hadapi sepertinya lebih besar atau lebih kecil dari orang lain.
Semua orang menghadapi dan menjalani badainya masing-masing; tidaklah bijaksana dan tidaklah sensitif untuk memberi tingkat kadar kesulitan badai tiap-tiap orang. Dan ini berlaku baik kepada mereka yang percaya kepada Kristus maupun mereka yang tidak.
Pertanyaannya: jika semua orang dapat mengalami badai, lalu ada perbedaan atau keistimewaan yang kita dapatkan dari mengikuti Kristus? Bukan artinya kita mencari-cari “keuntungan” atau membandingkan mana yang lebih “enak” imannya, tetapi kita akan melihat apa yang Allah ungkapkan dalam firman-Nya mengenai posisi-Nya dan maksud-Nya dengan mengizinkan kita menjalani badai hidup.
1. Allah tidak menjanjikan bahwa tidak akan badai hidup, tetapi Dia berjanji menyertai kita dan pada akhirnya akan meluputkan kita dari badai hidup tersebut (Yes. 43:2).
Dalam ayat sederhana, begitu banyak yang Allah ungkapkan kepada kita. Perhatikanlah ini, bahwa air, sungai dan api tidak Dia tiadakan dalam hidup kita. Air dalam Perjanjian Lama lebih sering mengarah pada arti yang buruk, seperti banjir atau laut yang bergelombang.
Demikian juga dengan sungai kerap diartikan sebagai yang buruk secara duniawi, apalagi api. Namun Allah yang mengasihi kita dapat mengubahkan air yang menenggelamkan, menjadi air yang menghidupkan jika air itu adalah Yesus.
Sungai yang menghanyutkan, menjadi sungai kehidupan jika sungai itu adalah aliran kasih Bapa. Api yang menghanguskan, menjadi api yang membakar semangat hidup jika api itu adalah aliran urapan dan kuasa Roh Kudus. Allah mengizinkan kita mengalami persoalan badai “air, sungai dan api” agar kita berharap dan percaya Allah akan menggantinya dengan air-Nya, sungai-Nya dan api-Nya.
Seberapun besarnya badai air, sungai, api yang kita hadapi, Tuhan berjanji itu tidak akan mengkonsumsi hidup kita. Allah memastikan tidak ada yang dapat menjatuhkan kita.
Satu-satunya badai dapat menjadi lebih besar daripada yang seharusnya diizinkan Allah terjadi, adalah karena kitanya sendiri yang membuat badai itu menjadi lebih besar, dengan cara mengambil keputusan-keputusan atau respons-respons yang tidak sesuai dengan Allah inginkan. Keindahan kasih Allah tercantum dalam kata-kata awal dari ayat ini: “Aku akan menyertai engkau”.
Pertanyaan refleksi kita adalah: apakah kitanya mau disertai Tuhan? Apakah kita mau ditemani Tuhan dalam perjalanan hidup kita? Apakah kita mau berjalan beserta Tuhan saat menghadapi badai hidup ini? Kasih karunia-Nya kepada kita dan kedaulatan-Nya tidak meniadakan kehendak bebas kita.
Allah-lah yang memberikan kehendak bebas kepada kita. Itu bukan artinya kita bebas berkehendak, tetapi kita diminta untuk juga menerima konsekuensi dari pilihan kita. Jika kita memilih untuk senantiasa disertai Allah dalam perjalanan hidup kita, maka janjinya di Yesaya 43:2 berlaku.
Tapi sangat aneh jika mau mengklaim janji Allah namun tidak mau Allah menyertai kita. Bersandarlah pada kasih Allah, berpeganglah pada Allah, karena Dia berjanji tidak akan meninggalkan kita; Dia berjanji menyertai kita, menemani kita. Haleluya.
2. Ada maksud mengapa Allah mengizinkan kita melalui badai hidup: membuat kita menjadi pribadi yang semakin matang iman di dalam Dia (Yak. 1:2-4).
Rasul Yakobus menambahkan bentuk lain dari badai di dalam suratnya ini: pencobaan. Sebagai murid-murid Kristus, pencobaan bisa berwujud dalam banyak hal, yang intinya mendorong para pengikut Kristus untuk melakukan hal-hal dosa, berkompromi, atau berjalan di luar kasih karunia Allah.
Pencobaan atau godaan muncul saat orang terdesak secara ekonomi atau nyawa. Yakobus melihat jika cobaan dan godaan mendatangi kita, justru itu adalah momen yang baik untuk berbahagia karena mengetahui bahwa sekarang muncul kesempatan untuk mematangkan iman keteguhan kita kepada Kristus.
Cobaan dan godaan adalah ujian yang dapat digunakan sebagai evaluasi untuk kita mengetahui sejauh mana kita teguh dan matang (baca: mantap!) iman di dalam Kristus. Pencobaan dan godaan bukanlah dosa. Dosa baru terjadi jika kita jatuh mengikuti pencobaan dan godaan tersebut.
Allah bukanlah pribadi yang membuat pencobaan dan godaan, tetapi Dia bisa mengizinkan kita dicobai oleh iblis, oleh tekanan dunia, dan oleh hasrat/keinginan/nafsu diri kita sendiri, agar kita tahu sementah atau sematang apa iman kita di dalam Dia.
Mereka yang bingung dan tidak tahu bagaimana untuk lulus ujian cobaan ini, rasul Yakobus mengajarkan jawabannya ada di ayat 5-6 (bacalah bersama-sama), yaitu tanya dan minta hikmat kepada Allah, yang tidak akan menahan-nahan hikmat itu dari mereka yang menanyakannya.
Yakobus mengaitkan masalah mau bertanya kepada Tuhan atau tidak-pun, akan menunjukkan sejauh mana keteguhan iman seorang percaya kepada Tuhan.
Penutup
Dari dua teks yang kita baca hari ini, ada satu garis merah yang terhubungkan: Allah menyertai kita saat kita dalam badai yang Dia izinkan terjadi, dan respons kita akan hal itu adalah kita bersandar pada Allah untuk menghadapinya dan mematangkan iman kita kepada-Nya. Tuhan begitu mengasihimu, percayalah pada-Nya. Amin. (CS).
Pertanyaan diskusi:
1. Apa “air, sungai, api” atau pencobaan sedang engkau hadapi hari-hari ini?
2. Sewaktu menghadapi badai, biasanya akan mencoba untuk mengatasinya terlebih dahulu, atau meminta penyertaan Tuhan terlebih dahulu? Jelaskan alasan jawabanmu.