IMAN TEGUH DALAM KETIDAKPASTIAN MELAHIRKAN KESAKSIAN
Posted by Admin 2026-08-14
Iman Teguh dalam Ketidakpastian Melahirkan Kesaksian
Mazmur 46; 2 Korintus 1:3-4
Tema besar pembahasan COOL pada bulan ini adalah mengenai badai hidup, bagaimana kita meresponinya dan apa yang Allah lakukan perihal badai hidup kita itu. Minggu lalu kita telah belajar bahwa Allah menemani/menyertai kita saat badai hidup menerpa dan salah satu alasan Allah mengizinkan badai itu menerpa hidup kita adalah untuk mematangkan iman kita.
Minggu ini kita akan memahami lebih jauh mengenai badai, iman dan alasan lain Allah mengizinkan ada pergumulan dan masalah ada dalam hidup kita. Salah satu bentuk badai yang terjadi dalam hidup kita adalah ketidakpastian. Tentu banyak dari kita menginginkan hal-hal yang pasti dalam hidup kita.
Ketidakpastian merupakan suatu ketidaknyamanan yang bisa membuat kita tidak tenang, tidak berpikir jernih ataupun tidak dapat beristirahat dengan baik. Siapapun yang sakit tentu ingin punya kepastian obat yang digunakan akan menyembuhkan dia. Tapi tidak ada yang dapat menjamin kesembuhan 100%.
Siapapun yang berusaha atau berinvestasi secara keuangan tentu ingin mendapatkan kepastian keuntungan. Tapi kita juga tahu tidak ada yang namanya 100% pasti untung. Ya, 100% bisa terjadi, tetapi tidak ada berani menjamin 100% bahwa 100% hal itu akan terjadi. Tapi ada yang bisa katakan 100% pasti terjadi, yaitu bahwa selama dunia ini masih berputar dan kita hidup di dalamnya, badai hidup pasti akan tetap ada.
Namun, ada satu yang Alkitab ungkapakan seratus persen ‘ya’ dan ‘amin’, yaitu:
• Allah adalah tempat perlindungan dan kekuatan kita dan Dia terbukti sebagai penolong dalam kesesakan (Mzm. 46:2). Saat kita perhatikan dengan baik apa yang ditulis secara keseluruhan dalam Mazmur 46, kita menemukan bahwa kalimat-kalimat yang ada bukanlah sekedar pengagungan kepada Tuhan dengan iman yang buta, tetapi merupakan pernyataan-pernyataan yang keluar dari fakta-fakta yang ada dan pengalaman yang pernah dilalui.
Pemazmur mengungkapkan bahwa bumi penuh dengan berbagai fenomena alam yang kerap merugikan manusia (ayat 3, 4) dan juga berbagai peperangan yang selalu saja terjadi sepanjang sejarah (ayat 10). Tetapi melalui semua peristiwa badai dan ketidakpastian --tidak ada yang tahu persis kapan gempa atau tsunqmi berikutnya terjadi sekalipun kini kita punya teknologi canggih, demikian juga dengan perang tidak ada yang tahu kapan bisa terjadi dan seringkali terjadi tiba-tiba-- pemazmur menunjukkan bahwa Allah adalah tempat perlindungan dan penolong.
Dan itu terbukti dalam kehidupan bangsa Israel. Tempat perlindungan kita bukanlah suatu lokasi fisik tertentu, tetapi di dalam Tuhan. Penolong kita bukanlah manusia lain, tetapi Tuhan itu sendiri. Pemazmur memberi bukti-bukti atas pernyataannya di ayat 2 tersebut.
Pemazmur menantang kita melihat bagaimana Allah Israel menjaga kota Yerusalem dari berbagai serangan musuh (ayat 5-7) tetapi pada saat yang sama mengingatkan bukan kota Yerusalem itu yang menjadi tempat perlindungan kuat, tetapi karena Allah yang menyertai penduduk Yerusalem (ayat 6, 8 dan 12).
Bukan rumah kita yang nyaman, bisnis yang kuat, tabungan yang cukup, pekerjaan stabil kita yang akan menjadi tempat perlindungan kita dalam kesesakan, tetapi Allah yang menyertai kita. Kalau bukan Dia yang menjadi tempat perlindungan kita, maka semua yang kita miliki secara fisik, baik itu keuangan dan kekayaan, akan menjadi sangat rentan untuk rusak, terbuang dan hilang.
Pengalaman dan perjalanan hidup kita bersama Allah Sang Penolong, menjadi kekuatan dan penghiburan kita. Karena itu, tetaplah beriman kepada-Nya dan bersandar kepada-Nya. Dia sudah sangat teruji dan terbukti sebagai perlindungan dan pertolongan.
• Penyertaan dan pertolongan Tuhan menjadi modal kesaksian bagi kita untuk menghibur mereka yang sedang dalam badai/kesusahan (2 Kor. 1:4). Rasul Paulus, sebagai seorang Yahudi terpelajar, tentu mengerti dengan baik bagaimana pekerjaan tangan Tuhan yang luar biasa kepada bangsa Israel di masa lalu, dan Tuhan yang sama yang kini kita sembah dalam nama Yesus Kristus juga akan melakukan hal yang serupa kita umat-Nya.
Paulus pun mendapatkan langsung pengalaman dihiburkan oleh Allah dalam perjalanannya bersama dengan Allah (ayat 3 dan 4). Yang menarik, sekalipun masih dalam penderitaan (ayat 6), tetapi Paulus mengatakan bahwa ia dan rekan-rekan sepelayanan yang ikut bersama dia, kini menjadi sanggup untuk menghibur mereka yang sedang juga dalam penderitaan, yaitu dengan cara penghiburan yang telah Paulus dan rekan-rekan terima dari Allah. Bahkan bukan hanya cara menghiburnya, tetapi juga bersaksi tentang Allah yang penuh kemurahan, sumber penghiburan, penuh kuasa dan setia menyertai (ayat 3 dan 5).
Renungkanlah hal ini: Allah mengizinkan ada badai dalam hidup kita, dan entahkah badai itu masih berlangsung atau sudah selesai, Allah dapat menggunakan itu sebagai kesempatan untuk menghibur kita, untuk memberkati kita dan terutama untuk kita bisa gunakan pengalaman ini membantu orang-orang lain yang juga sedang dalam kesusahan/menghadapi badai (ayat 4 dan 6).
Dari yang dibahas oleh Paulus, jelas Allah melindungi umat-Nya dari badai lebih lanjut, sebab jika badai sampai membinasakan atau menghancurkan hidup umat-Nya, maka rencana Allah untuk kita dapat bersaksi tentang Dia tidak akan tercapai. Kita dipelihara dan dilindungi Allah, agar kita bisa bersaksi tentang Dia dan menghibur orang-orang yang sedang dalam kesusahan/menghadapi badai. Pertanyaan lanjutan; setelah mengetahui hal ini, apakah kita mau bersaksi, atau kita memilih diam dan menunggu badai selesai dahulu baru kemudian bersaksi?
Saudara, perhatikan baik hal ini: jika Allah mengizinkan badai terjadi dalam hidup kita agar kita bisa bersaksi dan menghibur orang lain akan kebaikan dan penyertaan Tuhan, perlu berapa banyak badai harus terjadi sampai kita baru mau bersaksi? Mungkin, justru saat kita berbagi tentang penyertaan, kasih dan penghiburan Allah saat kita di dalam badai yang masih berlangsung, badai itu malah akan diredakan-Nya karena badai itu telah memenuhi tujuan-Nya.
Saat dunia berlomba-lomba untuk mengagungkan keberhasilan dan kemegahan, sebenarnya lebih banyak orang yang menantikan jawaban dari orang-orang Kristen: “Bagaimana kamu tetap bisa bertahan dalam badai yang kamu hadapi ini? Apa rahasianya?” Disinilah lahir kesempatan bagi kita untuk bersaksi, bahwa kuncinya adalah Tuhan Yesus dan iman kepada-Nya.
Dunia sudah penuh dengan orang-orang yang berlomba-lomba membagikan cerita kesuksesan, tetapi sebenarnya orang-orang merindukan cerita tentang damai sejahtera dan ketenangan dan penghiburan dari Allah di tengah badai.
Penutup
Kesimpulan akhir dari pembahasan kita minggu ini: tetap teguh beriman kepada Tuhan yang telah terbukti tempat perlindungan terbaik dan penghiburan kita, dan, hiburkan mereka yang sedang dalam badai dengan kesaksian bagaimana Allah telah menjadi tempat perlindungan dan penghiburan kita saat kita sendiri ada dalam badai. Tuhan mengasihimu, selalu. Amin. (CS)
Diskusi:
Pernahkah saudara mengalami suatu peristiwa yang tidak mengenakkan, tetapi kemudian Allah turun tangan dan peristiwa itu justru kini menjadi modal bagi saudara untuk menolong/menghibur orang lain yang sedang dalam kesusahan yang serupa? Bagikan kesaksian saudara.