PENGURAPAN ROH KUDUS UNTUK GENERASI YEREMIA (2)

Posted by Admin 2026-06-12

blog-post-image

Pengurapan Roh Kudus untuk Generasi Yeremia

 

Kisah Para Rasul 2:17-18 Sepanjang bulan ini, kita akan melihat dan mempelajari secara dekat perihal Generasi Yeremia (alias generasi muda berusia 30-an ke bawah), yang sudah kita mulai lakukan mulai minggu lalu. Pencurahan Roh Kudus di peristiwa Pentakosta pertama di loteng atas Yerusalem sebagaimana dicatat dalam Kisah Para Rasul 2, ternyata terkait erat dengan maksud dan rencana Allah untuk generasi muda.

Sekarang kita ada di era Pentakosta Ketiga, yaitu era pencurahan Roh Kudus yang terbesar dan terakhir yang akan memungkinkan kita, khususnya generasi Yeremia, untuk menyelesaikan Amanat Agung. Oleh karena itu penting bagi kita untuk memperhatikan generasi ini. Dr. Billy Wilson, Presiden dari Empowered21 Global, pernah berkata bahwa generasi Yeremia saat ini memiliki daya, kemajuan teknologi dan urapan yang memungkinkan Amanat Agung diselesaikan pada era ini. Wow! Ini adalah berita baik. Namun, sebagai insan Pentakosta, kita menyadari dengan baik bahwa tidak mungkin sebuah tugas atau panggilan dilakukan tanpa adanya pengurapan dari Roh Kudus.

 

1. Kita perlu berdoa agar dengan pencurahan Roh Kudus, generasi Yeremia diurapi untuk bernubuat dan mendapatkan penglihatan dari Roh Kudus. Ketika orang-orang banyak bertanya kepada para rasul apa yang terjadi di loteng atas hari Pentakosta tersebut, Petrus menjelaskan bahwa nubuat nabi Yoel di Yoel 2:28-31 sedang terjadi.

Sangat menarik, dalam nubuatan tersebut terungkap pencurahan Roh Kudus akan berdampak pada semua orang, baik laki-laki dan perempuan, dan dua generasi yaitu generasi muda (“anak-anakmu laki-laki dan perempuan” dan “teruna-terunamu”) dan generasi yang lebih tua (“orang-orangmu yang tua”), serta kepada orang-orang yang pada waktu itu masih dalam status perbudakan (“hamba-hamba” dalam pengertian langsung pada saat itu merujuk kepada mereka yang terikat pada status budak). Perhatikanlah bahwa perihal generasi muda, dua kali Petrus menyatakannya dengan istilah ‘anak-anakmu laki-laki dan perempuan’ serta ‘teruna-terunamu.’

Ini artinya ada suatu yang perlu diperhatikan sehubungan dengan pencurahan Roh Kudus dengan generasi muda. Bagi generasi Yeremia, pencurahan Roh Kudus kepada mereka ternyata menjadikan mereka mampu untuk bernubuat dan memiliki penglihatan-penglihatan. Ini penting, karena dengan adanya pencurahan Roh Kudus, maka pengurapan atau pemampuan untuk melakukan suatu tugas, Allah akan berikan.

Kisah Para Rasul 1:8 menyatakan bahwa Roh Kudus yang dicurahkan akan membuat semua yang menerimanya menjadi saksi Kristus, dan ‘kuasa’ adalah urapan yang diberikan untuk memampukan kita jadi saksi. Ini berlaku secara umum untuk semua yang menerima pencurahan Roh Kudus. Tetapi sangat menarik, ada suatu urapan khusus dari Roh Kudus untuk generasi Yeremia yang menerima pencurahan Roh Kudus, yaitu ‘nubuat’ dan ‘penglihatan’.

Nubuat adalah suatu ekspresi memperkatakan akan hal yang bisa terjadi di masa depan, oleh karena diungkapkan oleh Roh Kudus atau melalui firman Tuhan. Nubuat bisa terdengar positif atau negatif, tetapi semuanya bertujuan baik yaitu agar seseorang kuat dan diteguhkan, atau seseorang bertobat, atau menjadi hati-hati dalam melangkah/mengambil keputusan. Untuk dapat bernubuat, mutlak seseorang membutuhkan Roh Kudus dan semakin dia intim dengan Roh Kudus, semakin tajam nubuatannya.

Dengan kata lain, generasi Yeremia menjadi generasi yang intim dengan Roh Kudus. Tidakkah kita merindukan anak-anak kita laki-laki dan perempuan menjadi “nabi-nabi” yang menyerukan nubuat-nubuat dari-Nya? Tidakkah kita rindu anak-anak laki-laki dan perempuan kita intim dengan Roh Kudus? Kita perlu berdoa sungguh untuk hal ini. Penglihatan atau ‘visions’ lebih mengarah kepada anugerah untuk mengetahui apa yang akan terjadi di depan, sehingga bisa mengambil tindakan yang tepat. Memang agak mirip dengan nubuat, tetapi nubuat lebih bersifat pernyataan verbal (ucapan), sementara penglihatan lebih mengarah kepada melihat (visual) atau mendapatkan hikmat/pengertian.

Ini juga tentu dari Roh Kudus. Urapan penglihatan atau visi, menjadikan wibawa kepemimpinan seseorang meningkat. Hari-hari ini kita membutuhkan generasi Yeremia yang mampu membawa keluarga, Gereja dan bangsa ke tingkat kehidupan yang lebih baik dan
terarah. Untuk naik ke tingkat yang lebih baik, mutlak dibutuhkan visi. Dalam dunia sekulerpun, para pemimpin dan CEO yang baik adalah mereka memiliki visi ke depan untuk perusahaan yang mereka pimpin. Jika secara dunia saja visi demikian penting, bukankah lebih penting lagi memiliki visi ilahi dari Roh Kudus? Urapan visi ini tersedia bagi generasi Yeremia yang mau menerima pencurahan Roh Kudus.

Tidakkah kita rindu teruna-teruna kita menjadi pemimpin-pemimpin yang benar dan takut akan Tuhan di masa depan? Tidakkah kita rindu teruna-teruna kita memiliki ketajaman untuk memimpin diri sendiri maupun pelayanan, pekerjaan, organisasi atau apapun dipercayakan kepada mereka? Kita perlu berdoa sungguh akan hal ini. Amin!

 

2. Kita perlu berdoa agar kita --sebagai generasi yang lebih tua-- terus sadar dan memimpikan hari yang lebih baik untuk generasi Yeremia. Ini mungkin akan terdengar mengejutkan: ternyata banyak dari generasi yang “lebih tua” tidak
mempedulikan keadaan yang lebih baik untuk generasi yang lebih muda.

Tindakan-tindakan nyata seperti korupsi, kerakusan akan kekayaan, mentalitas ‘ini waktunya saya’, mentalitas ‘anak muda nanti urus dirinya sendiri’ --jelas menunjukkan bahwa kepedulian untuk generasi muda di dunia sekuler sebenarnya rendah. Bahkan, ada suatu keluhan oleh seorang anak muda di Gereja, yang mengatakan bahwa orang tuanya melakukan begitu banyak hutang disana-sini, lalu mengharapkan dirinya sebagai anak yang harus melunasi semua hutang tersebut sebagai bentuk “pengabdian”. Tentu, Alkitab mengajar bahwa anak harus memperhatikan orang tuanya, terutama jika sudah semakin menua.

Tetapi, yang disorot dalam keluhan ini adalah bahwa orang tua sang anak tidak memikirkan konsekuensi gaya hidup boros, mewah dan penuh hutang bagi kehidupan anak mereka di masa depan, bahkan menugasi untuk melunasi semuanya sebagai
bentuk bakti. Para orang tua, ingatlah pengorbanan kita untuk generasi muda bukanlah suatu hutang yang wajib anak-anak kita bayarkan. Itulah adalah kewajiban kita sebagai orang tua, bukan hutang mereka. Pencurahan Roh Kudus kepada generasi yang lebih tua memberi kuasa untuk ‘bermimpi’.

Dalam terjemahan bahasa Inggris, kata ‘bermimpi’ ini adalah ‘dream dreams’ atau memimpikan mimpi. Ini adalah terjemahan yang lebih tepat ke dalam bahasa asli Yunani-nya, walaupun mungkin membingungkan kalau ditulis demikian dalam bahasa Indonesia. Tetapi artinya sederhananya adalah kita memimpikan mimpi kita untuk anak-anak kita menjadi kenyataan. Bukan hanya sekedar mimpi yang lahir dari kerinduan kita, tetapi mimpi yang Roh Kudus tanam dalam diri kita untuk anak-anak kita. Renungkan kalimat terakhir ini.

Kita tentu mendoakan dan bermimpi hal-hal yang baik untuk anak-anak kita. Tetapi terlebih dari hal itu, kita perlu bertanya kepada Roh Kudus, apa yang Dia inginkan untuk anak-anak kita lakukan dan menjadi orang seperti apa di masa depan. Jadikan keinginan Roh Kudus itu sebagai mimpi kita, dan kita doakan sungguh-sungguh agar mimpi itu tercapai dan upayakan sungguh-sungguh agar mimpi itu terealisasi. Mimpi, nubuat dan penglihatan, sepertinya sama. Perbedaannya adalah bahwa mimpi adalah sesuatu yang sangat batiniah, sesuatu yang ada dalam hati yang paling dalam.

Apakah dalam hatimu engkau rela melihat anakmu melampuimu dalam segala hal; termasuk dalam pelayanan, pekerjaan dan kekayaan? Apakah dalam hatimu, semua anakmu --ya, semua anakmu laki-laki dan perempuan; bukan hanya si laki-laki sulung atau si perempuan yang pintar, tetapi semua anak-anakmu, dari si sulung sampai si bungsu, si pintar dan si biasa saja, si penurut dan si nakal, si kaya dan si sederhana, si cantik dan si yang tidak terlalu cantik, semuanya-- engkau bermimpi akan menjadi orang-orang hebat di dunia DAN orang-orang yang berkenan di hadapan Tuhan? Ataukah mimpimu hanya untuk anakmu yang tertentu saja?

Kiranya tidaklah demikian, tetapi kita memimpikan mimpi yang baik untuk semua anak-anak kita dan berdoa sungguh untuk hal itu. Kita bermimpi dan mendoakan, urapan Roh Kudus ‘nubuat’ dan ‘penglihatan’ turun kepada generasi Yeremia kita melalui pencurahan Roh Kudus yang besar di era penuntasan Amanat Agung ini. Biarlah 3 Yohanes 4 menjadi mimpi kita bersama selaku generasi yang lebih tua: “Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar dari pada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran.” Amin! (CS)

 

Pertanyaan Diskusi:
• Apa yang biasanya saudara doakan untuk generasi Yeremia atau anak-anakmu; sesuatu yang kau inginkan atau yang Roh Kudus taruh dalam hatimu?
• Apakah saudara cenderung untuk lebih mendoakan atau memperhatikan salah satu anakmu dibanding yang saudaranya yang lain? Jika ya, mengapa saudara lakukan itu? Apa yang sekarang hendak saudara buat akan hal itu setelah mempelajari sharing supplemen pada hari ini?